Kajari Paris Manalu Gaungkan “Papua Selatan Bermazmur”, Ribuan Umat Bersatu dalam Harmoni dan Kesadaran Hukum
![]() |
| Kajari Paris Manalu Gaungkan “Papua Selatan Bermazmur”, Ribuan Umat Bersatu dalam Harmoni dan Kesadaran Hukum |
MERAUKE — Suasana penuh sukacita dan khidmat mewarnai kawasan Monumen Kapsul Waktu Merauke, Jumat (28/8/2026). Ribuan masyarakat dari berbagai elemen, mulai dari pemuda, pelajar, tokoh agama, tokoh adat, jajaran pemerintah hingga Forkopimda, berkumpul dalam momentum ibadah rohani bertajuk “Papua Selatan Bermazmur.”
Kegiatan yang
mengusung tema “Harmoni Persaudaraan dalam Kasih Tuhan untuk Papua Selatan
yang Damai dan Taat Hukum” tersebut menjadi ruang bersama untuk memperkuat
persaudaraan, pemulihan sosial, sekaligus membangun mental dan spiritual
masyarakat di Bumi Animha.
Di balik kegiatan
tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Merauke Dr. Paris Manalu, S.H.,
M.H. tampil sebagai salah satu penggerak utama. Paris Manalu yang juga
menjabat Ketua Panitia Pelaksana menekankan bahwa kegiatan tersebut tidak
berhenti pada kegiatan keagamaan, tetapi diarahkan menjadi bagian dari upaya
preventif dan humanis dalam membangun kesadaran hukum masyarakat.
Menurut Paris,
pendekatan spiritual memiliki peran penting dalam membentuk karakter, khususnya
generasi muda, agar mampu menjauhkan diri dari berbagai perilaku yang dapat
berujung pada persoalan hukum.
“Melalui
puji-pujian rohani dan penanaman nilai takut akan Tuhan, kita membentuk
kesadaran hukum dari hati sanubari. Generasi muda adalah tumpuan masa depan
Papua Selatan yang harus hidup bijaksana, menjauhi jerat kriminalitas, dan
berdiri teguh di atas nilai persaudaraan,” ujar Paris Manalu.
Ia menjelaskan,
“Papua Selatan Bermazmur” merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk mencegah
berbagai penyakit masyarakat, seperti penyalahgunaan narkotika, konsumsi minuman
keras, tawuran, hingga kenakalan remaja.
Karena itu,
menurutnya, penegakan hukum tidak semata-mata dilakukan melalui pendekatan
represif. Upaya pencegahan melalui penguatan nilai agama, keluarga, pendidikan,
dan lingkungan sosial juga menjadi bagian penting dalam menciptakan masyarakat
yang tertib dan taat hukum.
“Kita
ingin membangun kesadaran bahwa hidup damai dan taat hukum dimulai dari diri
sendiri, keluarga, kemudian lingkungan. Ketika nilai-nilai kasih, persaudaraan
dan takut akan Tuhan tumbuh, maka potensi terjadinya pelanggaran hukum dapat
ditekan,” katanya.
Kegiatan tersebut
digelar melalui kolaborasi antara panitia pelaksana, Kejaksaan Negeri Merauke,
Pemerintah Provinsi Papua Selatan, Pemerintah Kabupaten Merauke, serta berbagai
denominasi gereja.
Kehadiran jajaran
Forkopimda, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, pelajar dan para tetua adat
atau Uang-uangan semakin memperkuat pesan kebersamaan yang ingin
dibangun melalui kegiatan tersebut.
Nuansa religius
semakin terasa ketika sejumlah pelayan rohani hadir memimpin doa dan
puji-pujian. Di antaranya Pastor Alberto John Kristoforus Bunay, Pr., Ps.
Jacqlien Celosse, dan Ps. Hutauruk.
Ribuan peserta
larut dalam puji-pujian dan doa bersama. Momentum tersebut sekaligus menjadi
simbol persatuan masyarakat Papua Selatan yang hidup dalam keberagaman, namun
tetap dipersatukan oleh semangat persaudaraan dan kedamaian.
Melalui “Papua
Selatan Bermazmur”, Paris Manalu berharap nilai-nilai spiritual yang dibangun
tidak berhenti selama kegiatan berlangsung, tetapi dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Ia menilai,
sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh agama, tokoh adat, dunia
pendidikan, pemuda dan masyarakat merupakan modal penting untuk menciptakan
lingkungan yang aman, damai dan tertib.
Dengan demikian,
kegiatan tersebut diharapkan menjadi fondasi spiritual sekaligus sosial dalam
memperkuat kerukunan antarwarga, mencegah berbagai bentuk penyakit masyarakat,
serta mendorong terciptanya Papua Selatan yang damai, harmonis dan semakin
sadar hukum. (Muzer)

