BREAKING NEWS$type=ticker$cols=4


Jaksa Agung Launching 3 Buku , Diantaranya Tentang Keadilan Restorative Justice dan Pemberitaan Tajam Ke Atas, Humanis Ke Bawah

Jaksa Agung Burhanuddin ( tengah ) melaunching tiga buku karya Puspenkum Kejagung, Jumat ( 15/7/2022 ) JAKARTA - Jaksa Agung Burhanuddin mel...

Jaksa Agung Burhanuddin ( tengah ) melaunching tiga buku karya Puspenkum Kejagung, Jumat ( 15/7/2022 )

JAKARTA
- Jaksa Agung Burhanuddin melaunching tiga buku yang dipersembahkan oleh Pusat Penerangan Hukum ( Puspenkum ) Kejaksaan Agung, berlangsung di Lantai 10 Gedung Menara Kartika Adhyaksa, Jumat ( 15/7/2022 ), ketiga buku yang mengupas keberhasilan Kejaksaan Agung di bawah komando Burhanuddin yang berjudul, Prof. Dr. ST. Burhanuddin Mengubah Paradigma Keadilan Langkah Restorative Justice Kejaksaan, kedua, Keadilan Restoratif Dalam Bingkai Hati Nurani, dan ketiga Jaksa Agung RI ST Burhanuddin Dalam Pemberitaan (Tajam Ke Atas, Humanis Ke Bawah).

Hadir secara langsung dalam acara ini yaitu Wakil Jaksa Agung Dr. Sunarta, Ketua Komisi Kejaksaan RI Dr. Barita Simanjuntak, Para Jaksa Agung Muda, Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI Tony T. Spontana, Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Ketut Sumedana, Asisten Umum Jaksa Agung Kuntadi, Asisten Khusus Jaksa Agung Hendro Dewanto, serta Pejabat Eselon II, Eselon III, dan Eselon IV di lingkungan Kejaksaan Agung. Selain itu, hadir secara virtual melalui zoom meeting yaitu Kepala Kejaksaan Tinggi dan Kepala Kejaksaan Negeri beserta jajaran.

Dalam laporannya, Kapuspenkum Kejaksaan Agung, Dr. Ketut Sumedana menyampaikan Puspenkum Kejagung berkontribusi dalam menghadirkan 3 (tiga) sumber literasi, serta berharap hal ini menjadi sebuah tonggak kebangkitan bersama.

“ Melalui karya-karya ini, diharapkan memberikan warna serta motivasi bagi seluruh pihak untuk berkarya lebih baik dan lebih banyak lagi,” ujar Ketut dalam mketerangnannya Jumat ( 15/7/2022 ).


Selanjutnya, Ketua Komisi Kejaksaan RI Dr. Barita Simanjuntak mendapat kehormatan untuk menyampaikan prakata dalam acara launching 3 buku ini dan menyampaikan bahwa acara sungguh luar biasa karena biasanya Jaksa hadir di persidangan dan mengendalikan penuntutan, memberikan masukan dan bidang-bidang lain. Namun hari ini, hadir dalam ruang ilmiah dan praktisi sebab pada hakekatnya keadilan itu tidak hanya ada di buku seperti apa yang disampaikan oleh Bapak Jaksa Agung namun juga ada di hati nurani tapi implementasinya di dalam pelaksanaan tugas, dan kali ini diangkat dalam karya akademis.

“Itu membuat bahwa produktivitas dari Jaksa Agung tentunya yang didorong oleh pemberitaan positif akan membantu masyarakat memahami seutuhnya apa hal yang dilakukan oleh Kejaksaan RI. Pada saat ini, kita diperhadapkan pada satu kebanggaan. Kalau dulu kepala kita setengah tegap berdiri, sekarang kita sudah bisa angkat dada karena kinerja baik Kejaksaan Agung di bawah kepemimpinan Jaksa Agung Burhanuddin,” ujar Ketua Komisi Kejaksaan RI.


Ketua Komisi Kejaksaan RI juga mengapresiasi Pusat Penerangan Hukum (Puspenkum) Kejaksaan Agung yang sangat produktif dimana Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) aktif memberikan informasi kepada Komisi Kejaksaan RI sehingga mendapatkan berita langsung dari tangan pertama. Oleh karenanya, edukasi publik yang dilakukan oleh Kejaksaan RI dan dukungan (support) oleh komisi dapat berjalan dan bersinergi dengan baik.

Terkait dengan keadilan restoratif (restorative justice), salah satu benang merah adalah menghadirkan restorative justice yang dimaknai oleh perspektif pandangan-pandangan para pemikir teknokrat Barat bisa didaratkan dalam konteks ke-Indonesiaan dan kearifan lokal. Lebih sulit lagi, dalam konteks penegakan hukum, bisa didaratkan oleh Kejaksaan RI dengan baik. 

Lalu kontrol dan pengendaliannya, Ketua Komisi Kejaksaan RI menyampaikan bahwa sudah berjalan baik dan ini untuk menghindari hal-hal yang kontraproduktif terhadap tujuan dari restorative justice. Hal ini sangat dihargai dan diapresiasi karena begitu mendengar Kejaksaan Agung, satu yang muncul adalah restoratifnya, lalu humanisnya.

“Bapak Jaksa Agung ini adalah humanisnya Indonesia dalam rangka penegakan hukum. Rakyat kecil bisa merasakan kehadiran Negara, tetapi hukum bisa tegak. Ini dua arus sangat sulit dipertemukan. Hanya pemain lama, pemain kawakan, dan memiliki jam terbang tinggi yang bisa mensinergikan itu,” ujar Barita Simanjuntak.

Kemudian, Jaksa Agung menyampaikan keberhasilan dan prestasi Kejaksaan RI tidak lepas dari peran Komisi Kejaksaan RI dikarenakan kekompakan antar kedua instansi dalam hal-hal yang positif, dan selalu mendapat dukungan terutama dari Ketua Komisi Kejaksaan RI.

 

“Kepercayaan masyarakat yang terus meningkat merupakan hasil kinerja seluruh teman-teman yaitu Wakil Jaksa Agung, Para Jaksa Agung Muda, Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI serta seluruh pihak. Saya hanya mengkoordinasikan dan berharap survei-survei berikutnya kita akan mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. Hal terpenting bagi saya dalam kegiatan launching buku adalah men-trigger teman-teman semua dikala waktu sempit dan padat dalam pekerjaan, kita masih berusaha merilis buku. Saya harap hasil pelaksanaan kerja, rencana kerja ke depan, dan semua hal yang kita kehendaki untuk keberhasilan Kejaksaan dapat ditulis dalam buku,” ujar Burhanuddin.

Dalam kesempatan ini juga, Jaksa Agung mengucapkan terima kasih kepada seluruh teman-teman bahwa selama menjabat seluruh pihak semakin solid, kompak dan saling mengingatkan. “Saya jauh dari sempurna, tetapi dengan kekompakan dan solidaritas kita bisa bekerja sama dengan baik,” kata Jaksa Agung.

Jaksa Agung menyebut bahwa buku pertama dengan judul Prof. Dr. ST. Burhanuddin Mengubah Paradigma Keadilan Langkah Restorative Justice Kejaksaan, dapat dipertanggung jawabkan saat dikukuhkan gelar Profesor.

Lalu buku kedua dengan judul Keadilan Restoratif Dalam Bingkai Hati Nurani, mengambil tema besar restorative justice karena masyarakat melihat bahwa restorative justice yang dilakukan oleh Kejaksaan merupakan yang sangat diterima masyarakat karena pola yang digunakan dan memiliki dasar untuk melakukan restorative justice.

“Kita ingin membumikan lagi bahwa restorative justice yang tepat adalah yang dilakukan oleh Kejaksaan. UNODC memberikan penghargaan bahwa restorative justice paling tepat adalah yang dilakukan oleh Kejaksaan dan akan dijadikan contoh kepada negara-negara yang tergabung dalam UNODC,” bebernya.

Acara launcing 3 buku di akhiri  dengan penandatanganan buku oleh Jaksa Agung dan foto bersama dengan Wakil Jaksa Agung, Para Jaksa Agung Muda, Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan, serta beberapa Pejabat Eselon II di lingkungan Kejaksaan Agung, serta acara ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan. ( Muzer)

 

COMMENTS