Kabadiklat Bekali Peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II dengan Penguatan Kompetensi Kepemimpinan
![]() |
| Kabadiklat berikan Pembekalan kepada peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II |
JAKARTA – Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (Kabadiklat) Kejaksaan RI Dr. Harli Siregar, S.H., M.Hum. memberikan penguatan wawasan kepada peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XIX Tahun 2026 melalui Ceramah Isu Strategis Kepemimpinan.
Ceramah tersebut berlangsung di Kampus
B Pusat Diklat Manajemen dan Kepemimpinan (Pusdiklat Mapim) Badan Diklat
Kejaksaan RI, Adhyaksa Loka, Ceger, Jakarta Timur, Kamis (6/8/2026). Materi
yang disampaikan Harli Siregar memberikan perspektif komprehensif mengenai
kepemimpinan strategis, khususnya dalam kaitannya dengan agenda Visitasi
Kepemimpinan Nasional (VKN) yang menjadi bagian dari kurikulum PKN II Tahun 2026.
Didampingi Kepala Pusdiklat Mapim Dr. Teuku Rahman, Kabadiklat Harli Siregar menegaskan bahwa jabatan Pimpinan Tinggi Pratama bukan sekadar posisi struktural, melainkan amanah strategis untuk menerjemahkan visi pembangunan bangsa ke dalam kebijakan dan program yang berdampak nyata.
Menurut Harli, seorang pemimpin
strategis harus memiliki kepekaan dalam membaca perubahan zaman,
mengidentifikasi peluang, sekaligus mengantisipasi berbagai risiko yang dapat
memengaruhi tata kelola pemerintahan.
“Dalam lanskap global dan nasional
yang bergerak kian dinamis, kepemimpinan tidak lagi cukup hanya berdasar pada
rutinitas birokrasi biasa, melainkan harus dibekali wawasan futuristik,”
demikian pokok pesan yang disampaikan Harli dalam ceramahnya.
Dorong
Kepemimpinan Kolaboratif
Harli juga menekankan pentingnya
kepemimpinan yang kolaboratif dan transformasional, terutama di tengah
percepatan transformasi digital, tuntutan transparansi tata kelola, serta
kebutuhan memperkuat ekonomi berbasis kerakyatan.
Ia mengingatkan para peserta agar
tidak melihat persoalan hanya dari perspektif sektoral. Sebaliknya, para calon
pemimpin strategis harus mampu membangun sinergi lintas instansi dan pemangku
kepentingan serta mengarahkan organisasi agar semakin adaptif dan akuntabel.
Dalam konteks PKN II Angkatan XIX
Tahun 2026, kepemimpinan kolaboratif tersebut diarahkan untuk memperkuat tata
kelola Koperasi Merah Putih sebagai salah satu pilar kedaulatan ekonomi rakyat
dan mendukung pemberdayaan UMKM.
Tema sentral PKN II Tahun 2026 adalah
“Kepemimpinan Kolaboratif dan Transformasional Dalam Penguatan Tata Kelola
Koperasi Merah Putih Sebagai Pilar Kedaulatan Ekonomi Rakyat Menuju Indonesia
Emas 2045.”
Harli kemudian menguraikan empat isu
strategis yang perlu mendapat perhatian peserta, yakni transformasi tata kelola
dan kelembagaan Koperasi Merah Putih, penguatan integritas dan kepastian hukum,
transformasi digital dan inovasi pelayanan publik, serta kepemimpinan
kolaboratif dalam pemberdayaan UMKM.
Menurutnya, transformasi Koperasi
Merah Putih membutuhkan tata kelola yang modern, profesional, transparan dan
akuntabel. Hal itu harus berjalan beriringan dengan penguatan regulasi,
peningkatan kualitas SDM, penerapan prinsip good cooperative governance, serta
penguatan integritas dan keamanan ekonomi.
Di sisi lain, transformasi digital
dinilai menjadi kebutuhan penting agar koperasi mampu meningkatkan efisiensi,
memperluas akses pasar, serta meningkatkan daya saing hingga tingkat global.
VKN Jadi
Laboratorium Kepemimpinan
Lebih jauh, Kabadiklat Harli Siregar
mendorong peserta tidak berhenti pada pemahaman teoritis di ruang kelas. Mereka
diminta memanfaatkan agenda Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) sebagai ruang
aktualisasi kepemimpinan strategis dan manajemen strategis.
VKN diarahkan untuk mengidentifikasi
praktik terbaik (best practice) di berbagai organisasi, kemudian melakukan
replikasi dan penyesuaian pengetahuan sesuai kebutuhan dan tema pembelajaran.
“Turunlah ke lapangan bukan hanya
untuk melihat, tetapi untuk mendengar, mengaitkan teori dengan realitas, serta
melahirkan gagasan kebijakan (policy brief) yang berdampak nyata bagi bangsa
dan negara,” pesan Harli kepada peserta.
Ia menegaskan, keberhasilan seorang
pemimpin strategis tidak semata-mata diukur dari capaian kinerja organisasinya,
tetapi juga dari seberapa besar kontribusi nyata yang diberikan bagi
pembangunan nasional.
Melalui VKN, peserta diharapkan mampu
menghasilkan lesson learnt, rekomendasi peningkatan keunggulan kompetitif,
serta policy brief yang dapat memperkaya pemecahan masalah strategis. Dengan
demikian, proses pembelajaran PKN II yang diikuti oleh para pejabat eselon II
dariberbagai instansi dan lembaga ini, tidak berhenti sebagai kegiatan
pendidikan dan pelatihan, tetapi menghasilkan gagasan dan kebijakan yang dapat
diimplementasikan.
Harli menutup ceramahnya dengan
mengingatkan bahwa kepemimpinan transformasional dan kolaboratif bukan sekadar
jargon. Bangsa membutuhkan pemimpin yang mampu berpikir strategis, berani
melakukan inovasi tata kelola, dan memiliki komitmen memperkuat ekonomi rakyat
melalui Koperasi Merah Putih dan UMKM.
(Muzer)


