Berita Terbaru

Wakil Jaksa Agung Asep N. Mulyana Pimpin Upacara HUT ke-81 RI di Badiklat, Tekankan Kebangkitan dan Integritas Kejaksaan

 

HUT ke-81 RI, Wakil Jaksa Agung Ajak Insan Adhyaksa Bangkit dan Jadikan Keadilan Nyata

 



JAKARTA – Wakil Jaksa Agung Republik Indonesia, Prof. Asep N. Mulyana, memimpin langsung Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Upacara Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Kejaksaan RI, Ragunan, Jakarta, Senin (17/8/2026).


Upacara berlangsung khidmat dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang tahun ini mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

Upacara diikuti para pejabat tinggi Kejaksaan Agung RI, para Jaksa Agung Muda, Kepala Badan, Staf Ahli Jaksa Agung, pejabat struktural eselon II, III dan IV, seluruh pegawai Kejaksaan Agung dan Badiklat, serta peserta Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) Angkatan 83 Gelombang II Tahun 2026.

Dalam amanat Jaksa Agung ST Burhanuddin yang dibacakan Wakil Jaksa Agung Asep N. Mulyana, seluruh insan Adhyaksa diajak untuk kembali menghayati semangat perjuangan para pendiri bangsa saat memproklamasikan kemerdekaan.


Menurut Jaksa Agung, para pejuang kemerdekaan tidak memiliki senjata canggih maupun kekuatan ekonomi besar. Mereka hanya berbekal keyakinan bahwa Indonesia layak merdeka dan berhak menentukan nasibnya sendiri.

Semangat tersebut, kata dia, harus terus mengalir dalam diri setiap insan Adhyaksa ketika menjalankan tugas, baik di ruang sidang, di lapangan maupun di tengah masyarakat.

“Api perjuangan harus terus menyala, diwariskan dari generasi ke generasi, agar semangat pengabdian tak lekang oleh waktu,” demikian pesan yang disampaikan dalam amanat tersebut.

Jaksa Agung juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan soliditas di lingkungan Kejaksaan. Sekat struktural maupun ego sektoral tidak boleh menjadi penghalang dalam menjalankan tugas penegakan hukum.

“Kekuatan kita bukan pada individu, melainkan pada soliditas barisan,” tegasnya.


Hukum Harus Tegak Lurus

Mengangkat tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, Jaksa Agung menegaskan bahwa tema tersebut bukan sekadar slogan seremonial, melainkan janji yang harus diwujudkan melalui kerja nyata.

Ketiga unsur tersebut, menurutnya, saling berkaitan. Tidak ada kemakmuran tanpa keadilan, tidak ada keadilan tanpa kedaulatan, dan kedaulatan tidak akan terwujud apabila hukum hanya menjadi tontonan, bukan tuntunan.

Jaksa Agung juga mengingatkan bahwa Kejaksaan yang pada 2 September 2026 akan genap berusia 81 tahun harus terus bertransformasi. Institusi penegak hukum itu dituntut dinamis, responsif dan berada di garda terdepan dalam mengawal kedaulatan hukum di Indonesia.

Ia menegaskan, hukum harus memberikan perlindungan yang sama kepada seluruh masyarakat tanpa pandang bulu dan tanpa tebang pilih.

“Kita harus membuktikan bahwa hukum di Indonesia bisa tegak lurus, tidak bergoyang oleh kekuasaan, tidak berbisik oleh uang, dan tidak buta oleh kepentingan,” tegasnya.

Jangan Terjebak Pencitraan

Lebih lanjut, Jaksa Agung meminta seluruh insan Adhyaksa tidak sekadar tampil sebagai aparatur yang gagah dengan seragam, tetapi harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Masyarakat, kata dia, membutuhkan kepastian hukum, putusan yang adil dan perlindungan dari kesewenang-wenangan.

“Kita adalah pelayan keadilan, bukan pelayan kekuasaan, bukan pelayan pemilik modal, dan bukan pula pelayan popularitas,” demikian pesan Jaksa Agung.

Karena itu, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dinilai menjadi saat yang tepat bagi Kejaksaan untuk melakukan transformasi, meninggalkan pola kerja birokratis dan prosedural semata menuju pendekatan yang lebih humanis, cepat dan berdampak.

Pemanfaatan teknologi, termasuk big data dan kecerdasan buatan, juga harus diarahkan untuk mendekatkan pelayanan Kejaksaan kepada masyarakat.

Namun, Jaksa Agung mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan peran hati nurani dalam penegakan hukum.

“Kecerdasan buatan tidak bisa merasakan penderitaan rakyat. Algoritma tidak bisa menimbang keadilan. Hanya manusialah, kitalah yang diberi akal dan nurani untuk menentukan apa yang benar dan apa yang salah,” ujarnya.

Momentum Bangkit dan Memulihkan Kepercayaan Publik

Dalam amanatnya, Jaksa Agung juga menyinggung berbagai peristiwa yang belakangan menyentuh institusi Kejaksaan dan menimbulkan kegelisahan maupun kekecewaan, baik di tengah masyarakat maupun di internal institusi.

Namun, ia meminta seluruh pegawai Kejaksaan tidak membiarkan kekecewaan memadamkan semangat pengabdian.

Menurutnya, marwah institusi tidak ditentukan oleh satu atau dua orang maupun bidang tertentu, tetapi oleh ribuan pegawai yang setiap hari bekerja dengan jujur, menjaga integritas dan tetap teguh menghadapi tekanan.

Momentum kemerdekaan pun harus menjadi titik balik bagi Kejaksaan untuk bangkit, memperkuat disiplin dan pengawasan serta menunjukkan keberanian untuk memperbaiki diri.

Jaksa Agung mengingatkan bahwa keberhasilan menangani perkara-perkara besar bukanlah akhir dari perjuangan. Sebaliknya, keberhasilan tersebut membawa tanggung jawab yang semakin besar, termasuk menghadapi berbagai tekanan, serangan opini maupun godaan yang dapat menguji integritas.

Karena itu, seluruh insan Adhyaksa diminta menjaga integritas dan soliditas serta tidak memberikan celah bagi pihak-pihak yang ingin melemahkan Kejaksaan.

Kepercayaan Publik Harus Dibuktikan

Pesan penting lainnya yang disampaikan Jaksa Agung adalah mengenai kepercayaan publik.

Menurutnya, kepercayaan masyarakat tidak dapat diminta, melainkan harus diperoleh melalui kerja nyata. Masyarakat membutuhkan bukti bahwa laporan mereka didengar, perkara ditangani secara profesional, pelaku yang bersalah diproses tanpa pandang bulu, serta Kejaksaan hadir sebagai pelindung kepentingan umum.

Menjadi jaksa dan pegawai Kejaksaan, lanjutnya, bukan sekadar pekerjaan, tetapi merupakan amanah sejarah untuk menghadirkan keadilan bagi masyarakat, terutama mereka yang tidak memiliki kekuasaan.

Jaksa Agung optimistis, apabila seluruh insan Adhyaksa bersungguh-sungguh memperbaiki diri, kepercayaan masyarakat akan kembali tumbuh.

Pada bagian akhir amanatnya, Jaksa Agung mengajak seluruh insan Adhyaksa menjadikan momentum kemerdekaan sebagai titik kebangkitan untuk mengukir sejarah baru Kejaksaan.

“Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa di era kita, keadilan mati. Sebaliknya, ukirlah nama kita dengan tinta emas, bahwa di era kitalah keadilan bangkit,” pesannya.

Ia pun meneguhkan kembali semangat seluruh insan Adhyaksa untuk terus berkarya dan mengabdikan diri bagi terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur. (Muzer)

 

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment