Berita Terbaru

Tausyiah Malam ke-26 di Masjid Al-Hukama Jelang Akhir Ramadan, Ustaz Malik Hidayat: Langit dan Bumi Turut Bersedih Berpisah dengan Bulan Suci

 


 Tausyiah Malam ke-26 Ramadan di Masjid Alhukama, Ustaz Malik Hidayat Ingatkan Umat Perbanyak Amal


JAKARTA – Tidak terasa bulan suci Ramadan yang baru saja kita sambut dengan penuh suka cita kini sebentar lagi akan meninggalkan umat Islam. Perpisahan dengan bulan yang penuh berkah ini bukan hanya dirasakan oleh orang-orang beriman, tetapi juga oleh seluruh makhluk ciptaan Allah.

Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Malik Hidayat dalam tausyiahnya pada malam ke-26 Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Alhukama Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan, Minggu malam (15/3/2026) atau malam Senin.

Tausyiah disampaikan setelah pelaksanaan salat Isya berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan salat Tarawih.

Dalam ceramahnya, Ustaz Malik Hidayat mengingatkan bahwa ketika malam-malam terakhir Ramadan tiba, bukan hanya manusia yang beriman yang merasakan kesedihan karena berpisah dengan bulan yang mulia ini.

“Rasulullah menyampaikan bahwa ketika datang malam terakhir bulan Ramadan, bukan hanya orang-orang beriman yang meneteskan air mata karena berpisah dengan Ramadan, tetapi langit, bumi, bahkan para malaikat pun turut bersedih,” ujarnya.

Para sahabat kemudian bertanya kepada Rasulullah SAW mengapa kesedihan itu terjadi. Rasulullah menjelaskan bahwa setelah Ramadan berlalu, umat manusia dikhawatirkan kembali terjerumus dalam berbagai kemaksiatan.

Padahal, lanjutnya, Allah SWT telah memberikan kemuliaan yang luar biasa kepada umat Nabi Muhammad SAW dengan menghadirkan satu bulan penuh keberkahan di antara dua belas bulan dalam setahun.

“Selama Ramadan, kita diberikan kesempatan yang sangat besar untuk memperbanyak amal. Setiap doa memiliki peluang besar untuk dikabulkan, dan setiap sedekah akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT,” jelasnya.

Menurut Ustaz Malik, umat Islam patut bersyukur menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad SAW yang diberikan banyak keistimewaan oleh Allah SWT.

Ia mengutip sebuah hadis kudsi yang menceritakan percakapan Allah SWT dengan Nabi Musa AS tentang keistimewaan umat Nabi Muhammad.

Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Allah memberikan dua cahaya kepada umat Nabi Muhammad SAW agar mereka tidak mengalami kegelapan.

“Allah berfirman kepada Nabi Musa bahwa Dia memberikan dua cahaya kepada umat Muhammad sehingga mereka tidak akan merasakan kegelapan selamanya,” kata Ustaz Malik.

Dua kegelapan yang dimaksud adalah kegelapan ketika manusia berada di alam kubur serta kegelapan pada hari kiamat. Sedangkan dua cahaya yang diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad adalah cahaya Ramadan dan cahaya Al-Qur’an.

“Nurul Ramadan dan Nurul Qur’an inilah yang akan menerangi kehidupan umat Islam, baik di dunia maupun di akhirat,” tuturnya.

Karena itu, Ramadan diibaratkan sebagai sebuah madrasah atau tempat pendidikan spiritual bagi umat Islam untuk memperbaiki diri.

Melalui ibadah puasa dan berbagai amalan lainnya, umat Islam dilatih untuk meningkatkan ketakwaan dan kepedulian terhadap sesama.

Ustaz Malik juga menekankan pentingnya menumbuhkan sifat sakhawatun nafsi, yakni kedermawanan dalam diri setiap Muslim.

Menurutnya, orang yang beriman akan tetap bersedekah baik dalam kondisi lapang maupun sempit.

Dalam kesempatan itu ia juga menjelaskan perbedaan antara infak dan sedekah yang sering ditemui di masjid-masjid.

“Infak adalah mengeluarkan nafkah berupa materi atau benda. Sedangkan sedekah tidak selalu berupa materi. Hal-hal sederhana seperti senyum kepada sesama juga termasuk sedekah,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar umat Islam tidak salah memahami makna sedekah yang sesungguhnya.

“Kalau kotak infak kosong jangan sampai kita hanya tersenyum di depannya lalu merasa sudah bersedekah. Senyum memang sedekah, tetapi infak tetap membutuhkan pengorbanan materi,” katanya sambil disambut senyum para jamaah.

Melalui ibadah puasa, lanjutnya, umat Islam juga dilatih untuk merasakan penderitaan orang-orang yang kekurangan.

Selama berpuasa, manusia menahan lapar dan dahaga sejak subuh hingga magrib, sekitar 13 hingga 14 jam.

“Dengan merasakan lapar, kita diingatkan bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam kekurangan. Dari situlah muncul kepedulian untuk membantu sesama,” ujarnya.

Ustaz Malik pun mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan sisa hari Ramadan dengan memperbanyak ibadah, doa, serta berbagai amal kebaikan.

“Semoga setelah Ramadan berlalu, kita keluar sebagai pribadi yang lebih baik, lebih peduli kepada sesama, dan tetap menjaga cahaya Ramadan serta cahaya Al-Qur’an dalam kehidupan kita,” tutupnya. (Muzer)

 

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment