Berita Terbaru

Kabadiklat Tekankan Disiplin dan Jiwa Korsa dalam Ujian PBB PPPJ, Dr. Leonard Simanjuntak: Jaksa Harus Tangguh, Disiplin, dan Berkarakter

 


Peserta ujian PBB PPPJ Angkatan 83 Gelombang I Tahun 2026


JAKARTA – “Hadap kiri grak, hadap kanan grak, balik kiri grak, balik kanan grak. Hadap kiri jalan di tempat grak, hadap kanan jalan di tempat grak. Hadap kiri berhenti grak. Haluan kanan jalan. Hadap kanan berhenti grak. Melintang kanan jalan, hadap kiri berhenti grak. Langkah tegap maju jalan. Buka barisan jalan. Tiap-tiap banjar dua kali jalan, periksa kerapian mulai. Hormat jalan grak, tegak grak. Tiap-tiap banjar dua kali belok kanan grak. Tutup barisan jalan, jalan di tempat grak, hadap kiri berhenti grak!”


Suara aba-aba tegas tersebut menggema di Lapangan Apel Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Kejaksaan RI, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026). Aba-aba diberikan oleh para pelatih dari Korps Marinir Cilandak dalam pelaksanaan Ujian Pelatihan Baris Berbaris (PBB) bagi peserta Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) Angkatan 83 Gelombang I Tahun 2026.

Sebanyak 505 siswa PPPJ mengikuti ujian PBB yang dipandu oleh 14 pelatih dari Korps Marinir Cilandak, dengan pengawasan langsung dari jajaran Badiklat Kejaksaan RI. Ujian ini menjadi salah satu tahapan penting dalam proses pembentukan karakter dan mental calon jaksa.


Salah satu pelatih, Peltu TNI (Mar) (Pur.) Sariwarno, yang juga bertindak sebagai dewan juri, menjelaskan bahwa tujuan utama latihan PBB adalah menyamakan persepsi kedisiplinan serta membangun hirarki jiwa korsa bagi calon jaksa.

“Tujuan daripada PBB bagi calon jaksa PPPJ Angkatan 83 adalah untuk menyamakan persepsi kedisiplinan supaya ke depan calon-calon jaksa ini mempunyai hirarki jiwa korsa,” ujar Sariwarno.

Menurutnya, disiplin dan keseragaman dalam PBB bukan sekadar soal gerakan fisik, melainkan pembentukan sikap mental yang akan sangat berpengaruh ketika para peserta telah resmi dilantik menjadi jaksa.

“Persepsinya sama, jadi apabila nanti setelah dilantik saya harapkan mereka bisa membawa Adhyaksa ke depan lebih bagus di daerah masing-masing. Apa yang diperoleh di Badiklat Kejaksaan ini betul-betul diterapkan saat dia menjadi jaksa,” imbuhnya.

Sariwarno juga menekankan pentingnya menjaga nama baik institusi Kejaksaan di mana pun para peserta nantinya ditempatkan.

“Apapun yang terjadi di sini, keluh kesahnya mungkin hanya siswa yang mengerti. Tapi harapan dari pelatih, ke depan calon-calon jaksa bisa membawa nama baik Korps Adhyaksa,” tegasnya.

Dalam penilaian ujian PBB, aspek utama yang dinilai adalah kekompakan tim. Menurut Sariwarno, jiwa korsa lahir dari keseragaman gerak, irama, dan sikap.

“Yang pertama kita nilai adalah kekompakan. Kalau mereka satu irama, kompak, tidak ada kesalahan, itu nilai bagus. Karena jiwa korsa itu diambil dari keseragaman,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa latihan PBB juga berfungsi membentuk kepemimpinan dan pengendalian emosi calon jaksa.

“Jiwa korsa kepemimpinan itu supaya ke depan dalam melaksanakan pekerjaan tidak boleh emosional. Dalam mengambil keputusan harus logis, objektif, tidak pakai perasaan. Di sinilah pembinaan mentalnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (Kabadiklat) Kejaksaan RI, Leonard, turut menegaskan bahwa PBB bukan hanya latihan seremonial, melainkan bagian penting dari proses pembentukan jaksa yang berkarakter, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan penegakan hukum.

Leonard menilai bahwa disiplin fisik dalam PBB merupakan pintu masuk menuju disiplin moral dan profesional.

“PBB ini bukan sekadar baris-berbaris, tetapi sarana membentuk karakter, mental, dan integritas calon jaksa. Jaksa harus tangguh, disiplin, memiliki etika, serta mampu bekerja dalam sistem dan hirarki,” tegas Leonard.

Menurutnya, Kejaksaan membutuhkan jaksa-jaksa muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara mental dan loyal terhadap institusi.

“Seorang jaksa harus siap ditempatkan di mana saja, menghadapi tekanan apa pun, namun tetap teguh pada nilai keadilan, profesionalisme, dan pengabdian kepada negara,” ujarnya.

Leonard juga menekankan bahwa jiwa korsa yang dibangun sejak di Badiklat akan menjadi fondasi kuat dalam membangun soliditas internal Kejaksaan.

“Kalau sejak awal sudah terbentuk jiwa korsa, maka ke depan mereka akan saling mendukung, saling mengingatkan, dan bersama-sama menjaga marwah Korps Adhyaksa,” pungkasnya. (Muzer)

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment