Jan S. Maringka Kunjungi Kejari Tarakan: Kenang Penugasan Awal dan Beri Pesan untuk Jaksa Perbatasan
![]() |
| Kenang masa penugasan sebagai Kajari pertama, Jan Maringka melakukan kunjungan ke Kejari Tarakan. (Foto: Dok JSM) |
TARAKAN — Mantan Jaksa Agung Muda Intelijen (JAM-Intel) Kejaksaan
Agung RI periode 2017–2020, Dr. Jan S. Maringka, SH., MH. melakukan
kunjungan singkat ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Tarakan, Kalimantan Utara, pada
Senin (1/12/2025). Kunjungan ini memiliki nilai sentimental, karena Tarakan
merupakan tempat pengabdian pertamanya sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari)
Tarakan pada 2003–2004.
Dalam kunjungan tersebut, Jan
Maringka juga bersilaturahmi dengan sahabat lamanya, Wali Kota Tarakan dr.
Khairul dan mantan Ketua DPRD Kota Tarakan Udin Hiangio. Pertemuan itu menjadi
ruang nostalgia sekaligus refleksi atas dinamika penugasan di wilayah
perbatasan yang pernah ia jalani lebih dari dua dekade lalu.
Tarakan,
Fondasi Perjalanan Profesional
Dalam dialog bersama jajaran Kejari
Tarakan, Jan Maringka menegaskan bahwa Tarakan memiliki posisi penting dalam
perjalanan kariernya di Korps Adhyaksa. Ia menyebut pengalaman pertama memimpin
satuan kerja di daerah perbatasan telah membentuk karakter kepemimpinan,
keteguhan profesionalisme, serta pemahaman komprehensif tentang pelayanan hukum
bagi masyarakat.
Menurutnya, dinamika penegakan hukum
pada awal 2000-an di tengah desentralisasi pemekaran kota dan kabupaten
memberikan banyak pelajaran berharga. Mulai dari kemampuan membangun komunikasi
sosial, mengendalikan manajemen perkara, hingga menumbuhkan kedekatan institusi
Kejaksaan dengan masyarakat.
“Banyak hal fundamental saya
pelajari di Tarakan. Di sini pula Program Jaksa Menyapa pertama kali
kita inisiasi bersama RRI Tarakan pada 2003, yang kini berkembang menjadi
program nasional,” ujar Jan Maringka.
Pesan
untuk Jaksa di Perbatasan
Dalam kesempatan itu, Jan
Maringka—yang juga pernah menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan
(2017)—mengajak para jaksa untuk terus menjaga integritas, menjunjung etika profesi,
dan memperkuat konsolidasi organisasi, apa pun tantangan geografis maupun
keterbatasan fasilitas.
“Walau jumlah kita sedikit,
kehadiran Kejaksaan harus dirasakan di mana pun kita bertugas. Keterbatasan
sarana atau tekanan lingkungan tidak boleh mengurangi kualitas pelayanan hukum
kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi kerja keras
para jaksa yang kini bertugas di Tarakan, wilayah yang menurutnya memiliki
dinamika sosial tinggi sekaligus peran strategis sebagai pintu masuk Provinsi
Kalimantan Utara.
“Penugasan di daerah perbatasan
membutuhkan ketangguhan mental, kemampuan adaptasi, dan pemahaman kultur
masyarakat yang kuat. Ini adalah tugas mulia yang harus dijalankan dengan
dedikasi tinggi,” tambahnya.
Refleksi
Pengabdian dan Jejak Karier
Selain berbagi pesan dan pengalaman,
Jan Maringka juga memaparkan pentingnya pola komunikasi publik yang efektif,
menjaga hubungan baik dengan masyarakat, serta membangun koordinasi lintas
instansi sebagai bagian dari strategi penguatan pelayanan publik.
Ia menuturkan bahwa nilai-nilai yang
ia pelajari selama bertugas di Tarakan menjadi modal penting dalam perjalanan
kariernya—mulai dari penugasan sebagai Atase Kejaksaan di Hong Kong, memimpin
Kejati Maluku dan Sulawesi Selatan, hingga dipercaya sebagai JAM-Intel. Pada
2022–2024, ia juga mengemban amanah sebagai Inspektur Jenderal Kementerian
Pertanian.
Jan berharap pengalaman tersebut
dapat menjadi referensi bagi para jaksa muda dalam menumbuhkan semangat
pengabdian, integritas, dan hubungan humanis dengan masyarakat.
Dr. Jan Samuel Maringka, lahir 11 Oktober 1963, dikenal sebagai salah satu figur
penting dalam jajaran Kejaksaan Republik Indonesia. Ia menempuh perjalanan
panjang dalam berbagai posisi strategis, baik dalam fungsi teknis penegakan
hukum maupun tugas lintas kementerian, dan tetap aktif memberikan kontribusi
pemikiran bagi penguatan institusi Kejaksaan. (Rls/Muzer)
